Rabu, 15 Oktober 2014

Implikasi Perkembangan Teknologi Komunikasi Di Dunia Periklanan


Implikasi Perkembangan Teknologi Komunikasi Dalam Bidang Periklanan
Iklan adalah fenomena kontemporer abad 20, namun cikal bakal periklanan sesungguhnya sudah ada sejak berabad-abad lalu. Periklanan dalam arti sederhana diawali ketika orang mulai hidup pada kelompok-kelompok kecil dan mencoba mempengaruhi orang lain untuk membeli barang komoditas sehari-hari. Selanjutnya periklanan semakin meluas berkat pengembangan teknologi mesin cetak di Eropa pada tahun 1455 dan gelombang Revolusi Industri pada abad 18 yang mempercepat akses bisnis dan memperluas pasar industri.

Dalam masyarakat modern, iklan diartikan sebagai salah satu bentuk informasi terbaru kepada konsumen mengenai berbagai komoditas dan dorongan-dorongan kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi . Dunia periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi dengan teknologi Sepanjang abad 20, periklanan muncul pada lima media utama yaitu; suratkabar, majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang menyebutnya reklame).

Menurut Bondan Winarno dalam buku ”Rumah Iklan”, sejarah periklanan di Indonesia lahir seiring sejarah kelahiran suratkabar. Koran pertama milik Belanda Bataviaasche Nouvelles, saat terbit sebagian besar isinya adalah iklan tentang perdagangan, pelelangan, dan pengumuman resmi pemerintah Hindia Belanda. Iklan suratkabar waktu itu umumnya menampilkan produk-produk yang dikonsumsi masyarakat kelas atas. Sebuah toko P&D (provisien en drunken = kebutuhan makan dan minum) misalnya, mengumumkan lewat suratkabar tentang kedatangan kapal dari Negeri Belanda yang membawa mentega dan keju stok baru. Cerutu dan bir juga merupakan komoditas impor pada masa itu, dan sering diiklankan di suratkabar.

Setelah merdeka, dasawarsa tahun 1970-an merupakan kebangkitan periklanan modern Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri bermodal asing ini membuka peluang bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian juga media-media untuk beriklan semakin marak.

Ketika sistem percetakan ditemukan oleh Guttenberg pada tahun 1450 dan muncul sejumlah surat kabar mingguan, iklan semakin sering digunakan untuk kepentingan komersial. Pada masa ini juga lahir majalah, poster, pamflet, dan sebagainya, maka iklan kemudian berkembang sangat pesat. Namun perkembangan periklanan pada masa-masa sesudah itu menunjukkan sejarah yang amat sulit, terutama merencanakan perkembangan proses perhatian yang spesifik dan informasi ke dalam sistem pelembagaan informasi komersial dan persuasi, dikaitkan dengan perubahan masyarakat dan ekonomi. Dengan pertumbuhan yang begitu pesat dari surat kabar di tahun 1690-an, volume periklanan juga terus meningkat pesat. Walaupun sifatnya terbatas, namun para produsen barang dan jasa telah membiayai periklanan, karena mereka tahu bagaimana cara mendapatkan keuntungan darinya. Sehingga dari buku dan alat tulis, kosmetik dan barang-barang lainnya, mulai menggunakan jasa periklanan, dengan begitu periklanan makin lama makin berkembang.
Perkembangan Tekhnologi telah menyediakan fasilitas baru dalam bidang-bidang yang menyangkut komunkasi, dan salah satunya adalah Periklanan. Iklan berdampak pada keinginan individu dan kelompok bertindak sesuai dengan pembuat iklan itu sendiri. Seperti contohnya adalah membeli barang yang diiklankan.

        Dalam usahanya mempengaruhi public, tentunya iklan memerlukan media untuk menampilkan tayangannya tersebut. Ruang public atau sarana umum kerap sering digunakan dalam periklanan, seperti contohnya memasang baliho, menempelkan poster, banner, spanduk, hingga menggunakan tiang-tiang besar di pinggir jalan agar dapat menarik perhatian orang.

        Penggunaaan ruang public ini merupakan salah satu contoh yang efektif karena setiap hari, orang-orang sering lalu lalang melewati ruang public yang dimana didalamnya terdapat iklan. Semakin berkembang dan berkembang, munculah teknologi komunikasi yang memberikan kemudahan baru, seperti televisi dan radio.

            Pemasangan iklan, kini tidak terbatas jarak sebatas orang-orang melewati baliho di pinggir jalan atau orang-orang yang duduk mendengarkan radio ataupun orang-orang yang duduk di depan layar televisi. Iklan pun kini telah merambah pada internet dan telepon genggam.

            Dalam masyarakat modern, iklan diartikan sebagai salah satu bentuk informasi terbaru kepada konsumen mengenai berbagai komoditas dan dorongan-dorongan kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi . Dunia periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi dengan teknologi Sepanjang abad 20, periklanan muncul pada lima media utama yaitu; suratkabar, majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang menyebutnya reklame).
            Setelah merdeka, dasawarsa tahun 1970-an merupakan kebangkitan periklanan modern Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri bermodal asing ini membuka peluang bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian juga media-media untuk beriklan semakin marak.
Berbicara mengenai teknologi, komunikasi dan prosesnya merupakan salah satu dari beragam aspek yang terkena dampak langsung dari perkembangan teknologi itu sendiri. Perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi dan informasi telah menyediakan playground baru bagi bidang-bidang pekerjaan yang menyangkut komunikasi, dan salah satunya adalah Periklanan.



“Advertising certainly aims to change belief. The advertiser wants to alter your cognitive landscape such that your previous indifference, aversion, or total ignorance vis-à-vis Brand X is replaced by a more favourable attitude towards it.” (Kathleen Taylor, 2004).



Tujuan utama dari Iklan adalah merubah kepercayaan. Iklan sendiri memiliki definisi sebagai berikut: “The techniques and practices used to bring products, services, opinions, or causes to public notice for the purpose of persuading the public to respond in a certain way toward what is advertised.” (Encyclopedia Britannica Logo, 2013). Kembali pada poin awal bahwa tujuan dari iklan adalah merubah opini atau kepercayaan. Hal ini kemudian berdampak pada keinginan individu dan kelompok untuk bertindak sesuai dengan pembuat iklan itu sendiri, contohnya adalah membeli barang yang diiklankan, atau setidaknya mengetahui barang yang diiklankan; kemudian ada juga iklan layanan masyarakat yang berguna untuk menghimbau masyarakat agar bertindak sesuai dengan himbauan.



Iklan, dalam berusaha untuk merubah opini publik, memerlukan ruang atau media untuk menampilkan propaganda. Dimulai dari cikal-bakal terjadinya perilaku yang dapat dianggap sebagai aktivitas mengiklankan, adalah dengan mengecat dinding untuk mengumumkan perkelahian gladiator yang dilakukan oleh orang-orang Roma. Sedang orang-orang Ponosea melukis gambar untuk mempromosikan perangkat keras mereka di sepanjang jalur parade. Tidak berubah banyak hingga sekarang, dulu aktivitas ini bertujuan untuk “mempublikasikan” berbagai peristiwa (event) dan tawaran (offers). Satu hal yang sesuai dengan poin di awal, bahwa iklan ini membutuhkan media atau ruang yang dapat digunakan untuk menyampaikan propaganda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar