Implikasi Perkembangan Teknologi Komunikasi Dalam Bidang
Periklanan
Iklan adalah fenomena kontemporer abad 20, namun cikal bakal
periklanan sesungguhnya sudah ada sejak berabad-abad lalu. Periklanan dalam
arti sederhana diawali ketika orang mulai hidup pada kelompok-kelompok kecil
dan mencoba mempengaruhi orang lain untuk membeli barang komoditas sehari-hari.
Selanjutnya periklanan semakin meluas berkat pengembangan teknologi mesin cetak
di Eropa pada tahun 1455 dan gelombang Revolusi Industri pada abad 18 yang
mempercepat akses bisnis dan memperluas pasar industri.
Dalam masyarakat modern, iklan diartikan sebagai salah satu bentuk informasi terbaru kepada konsumen mengenai berbagai komoditas dan dorongan-dorongan kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi . Dunia periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi dengan teknologi Sepanjang abad 20, periklanan muncul pada lima media utama yaitu; suratkabar, majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang menyebutnya reklame).
Menurut Bondan Winarno dalam buku ”Rumah Iklan”, sejarah periklanan di Indonesia lahir seiring sejarah kelahiran suratkabar. Koran pertama milik Belanda Bataviaasche Nouvelles, saat terbit sebagian besar isinya adalah iklan tentang perdagangan, pelelangan, dan pengumuman resmi pemerintah Hindia Belanda. Iklan suratkabar waktu itu umumnya menampilkan produk-produk yang dikonsumsi masyarakat kelas atas. Sebuah toko P&D (provisien en drunken = kebutuhan makan dan minum) misalnya, mengumumkan lewat suratkabar tentang kedatangan kapal dari Negeri Belanda yang membawa mentega dan keju stok baru. Cerutu dan bir juga merupakan komoditas impor pada masa itu, dan sering diiklankan di suratkabar.
Setelah merdeka, dasawarsa tahun 1970-an merupakan kebangkitan periklanan modern Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri bermodal asing ini membuka peluang bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian juga media-media untuk beriklan semakin marak.
Ketika sistem percetakan ditemukan oleh Guttenberg pada tahun 1450 dan muncul sejumlah surat kabar mingguan, iklan semakin sering digunakan untuk kepentingan komersial. Pada masa ini juga lahir majalah, poster, pamflet, dan sebagainya, maka iklan kemudian berkembang sangat pesat. Namun perkembangan periklanan pada masa-masa sesudah itu menunjukkan sejarah yang amat sulit, terutama merencanakan perkembangan proses perhatian yang spesifik dan informasi ke dalam sistem pelembagaan informasi komersial dan persuasi, dikaitkan dengan perubahan masyarakat dan ekonomi. Dengan pertumbuhan yang begitu pesat dari surat kabar di tahun 1690-an, volume periklanan juga terus meningkat pesat. Walaupun sifatnya terbatas, namun para produsen barang dan jasa telah membiayai periklanan, karena mereka tahu bagaimana cara mendapatkan keuntungan darinya. Sehingga dari buku dan alat tulis, kosmetik dan barang-barang lainnya, mulai menggunakan jasa periklanan, dengan begitu periklanan makin lama makin berkembang.
Perkembangan Tekhnologi telah menyediakan fasilitas baru
dalam bidang-bidang yang menyangkut komunkasi, dan salah satunya adalah
Periklanan. Iklan berdampak pada keinginan individu dan kelompok bertindak
sesuai dengan pembuat iklan itu sendiri. Seperti contohnya adalah membeli
barang yang diiklankan.
Dalam usahanya
mempengaruhi public, tentunya iklan memerlukan media untuk menampilkan tayangannya
tersebut. Ruang public atau sarana umum kerap sering digunakan dalam
periklanan, seperti contohnya memasang baliho, menempelkan poster, banner,
spanduk, hingga menggunakan tiang-tiang besar di pinggir jalan agar dapat
menarik perhatian orang.
Penggunaaan ruang
public ini merupakan salah satu contoh yang efektif karena setiap hari,
orang-orang sering lalu lalang melewati ruang public yang dimana didalamnya
terdapat iklan. Semakin berkembang dan berkembang, munculah teknologi
komunikasi yang memberikan kemudahan baru, seperti televisi dan radio.
Pemasangan iklan, kini tidak terbatas jarak sebatas orang-orang melewati baliho
di pinggir jalan atau orang-orang yang duduk mendengarkan radio ataupun
orang-orang yang duduk di depan layar televisi. Iklan pun kini telah merambah
pada internet dan telepon genggam.
Dalam masyarakat modern, iklan diartikan sebagai salah satu bentuk informasi
terbaru kepada konsumen mengenai berbagai komoditas dan dorongan-dorongan
kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi . Dunia
periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi dengan teknologi
Sepanjang abad 20, periklanan muncul pada lima media utama yaitu; suratkabar,
majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang
menyebutnya reklame).
Setelah merdeka, dasawarsa tahun 1970-an merupakan kebangkitan periklanan
modern Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang
melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan
multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman
Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri
bermodal asing ini membuka peluang bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian
juga media-media untuk beriklan semakin marak.
Berbicara mengenai teknologi, komunikasi dan prosesnya
merupakan salah satu dari beragam aspek yang terkena dampak langsung dari
perkembangan teknologi itu sendiri. Perkembangan teknologi terutama teknologi
komunikasi dan informasi telah menyediakan playground baru bagi
bidang-bidang pekerjaan yang menyangkut komunikasi, dan salah satunya adalah
Periklanan.
“Advertising certainly aims to change belief. The advertiser
wants to alter your cognitive landscape such that your previous indifference,
aversion, or total ignorance vis-à-vis Brand X is replaced by a more favourable
attitude towards it.” (Kathleen Taylor, 2004).
Tujuan utama dari Iklan adalah merubah kepercayaan. Iklan
sendiri memiliki definisi sebagai berikut: “The techniques and practices used
to bring products, services, opinions, or causes to public notice for the
purpose of persuading the public to respond in a certain way toward what is
advertised.” (Encyclopedia Britannica Logo, 2013). Kembali pada poin awal bahwa
tujuan dari iklan adalah merubah opini atau kepercayaan. Hal ini kemudian
berdampak pada keinginan individu dan kelompok untuk bertindak sesuai dengan
pembuat iklan itu sendiri, contohnya adalah membeli barang yang diiklankan,
atau setidaknya mengetahui barang yang diiklankan; kemudian ada juga iklan
layanan masyarakat yang berguna untuk menghimbau masyarakat agar bertindak
sesuai dengan himbauan.
Iklan, dalam berusaha untuk merubah opini publik, memerlukan
ruang atau media untuk menampilkan propaganda. Dimulai dari cikal-bakal
terjadinya perilaku yang dapat dianggap sebagai aktivitas mengiklankan, adalah
dengan mengecat dinding untuk mengumumkan perkelahian gladiator yang dilakukan
oleh orang-orang Roma. Sedang orang-orang Ponosea melukis gambar untuk
mempromosikan perangkat keras mereka di sepanjang jalur parade. Tidak berubah
banyak hingga sekarang, dulu aktivitas ini bertujuan untuk “mempublikasikan”
berbagai peristiwa (event) dan tawaran (offers). Satu hal yang sesuai dengan
poin di awal, bahwa iklan ini membutuhkan media atau ruang yang dapat digunakan
untuk menyampaikan propaganda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar