Rabu, 15 Oktober 2014

Krisis yang Disebabkan oleh Globalisasi

Globalisasi seperti yang banyak diketahui adalah sebuah hal yang abstrak dan memancing banyak argument mengenainya. Ada mereka yang beranggapan bahwa proses tersebut benar – benar baru dan ada pula pihak – pihak yang menganggap bahwa globalisasi hanyalah sebuah proses pengulangan yang telah terjadi sebelumnya. Bahkan ada argument bahwa globalisasi, yang banyak dianggap sebagai hal yang yang berkelanjutan dan kontinu, pernah mengalami interupsi – interupsi dan krisis yang menghambat penyebarannya.
George Soros yang melalui tulisannya yang berjudul The Deficiencies of Global Capitalism (2002), membatasi definisi globalisasi sebatas perkembangan pasar finansial global, pertumbuhan perusahaan transnasional, dan peningkatan dominasi atas ekonomi nasional. Interupsi dan krisis yang terjadi dalam pandangan Soros adalah saat meletusnya Perang Dunia I dan pada masa Great Depression tahun 1930-an (Soros, 2002). Lain pula dalam tulisan John R. Saul (2005:160) yang melihat krisis globalisasi adalah ketika krisis ekonomi yang diawali devaluasi mata uang Baht Thailand pada tahun 1997, yang akhirnya melanda negara-negara Asia seperti Indonesia, Korea Selatan, Malaysia dan Jepang. Stephen Gill (2008:150) menambahkan bahwa krisis ekonomi di Asia bukan hanya sebatas interupsi dalam pasar global, Krisis Asia Timur menunjukkan bahwa ada konflik antar negara dalam pembentukan politik ekonomi berlandaskan liberalise dari perkembangan kapitalis yang dilandasi oleh faktor geopolitik.
Dari pertemuan mengenai topik krisis globalisasi, terkait dengan guiding question, kelompok 11 menyatakan bahwa globalisasi dalam perjalanannya pernah mengalami berbagai interupsi yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya krisis dunia. Interupsi itu sendiri merupakan selaan ataupun kritik yang terjadi ditengah-tengah fenomena globalisasi. Interupsi-interupsi tersebut tersebut terjadi di berbagai tempat seperti Amerika Latin, Meksiko, dan Asia terutama Asia Timur (Saul, 2005). Menurut Stephen Gill (2008:150), krisis ekonomi di Asia bukan hanya sekedar suatu persoalan pergerakan dalam pasar global, namun faktor geopolitik juga berpengaruh. Dunia pernah mengalami krisis hebat yang memberikan pengaruh masif terhadap perekonomian negara-negara di dunia yang terjadi sekitar tahun 1930-an.
            Dalam hal ini kelompok sebelas mengatakan bahwa penyebab interupsi-interupsi terhadap globalisasi adalah krisis Asia Timur. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Stephen Gill (2008: 151) bahwa era globalisasi pun dipengaruhi oleh adanya krisis ini. Pada masa krisis tersebut, para strategis liberal menilai  terlalu banyaknya pinjaman luar negeri, investasi yang buruk, dan sistem perbankan yang tidak teratur sebagai penyebab krisis namun dalam hal ini Amerika justru memanfaatkan hal tersebut untuk memperkuat kepentingan negaranya (Gill, 2008 : 152-3). Kelompok sebelas juga mengatakan bahwa negara-negara pada krisis tersebut membutuhkan berbagai bantuan guna menutup hutang mereka, memberikan pesangon bagi pekerja-pekerja mereka yang tak lama lagi akan diberhentikan, serta mengembalikan aset-aset dan modal namun penyelesaian yang ditawarkan oleh negara-negara maju adalah sistem kapitalisme; investasi, saham, dan pasar bebas (Gill, 2008: 153).
            Amerika memanfaatkan kondisi ini dengan menanamkan sebuah sistem yang disebut dengan global free enterprise system. Global free enterprise system merupakan suatu sistem yang memperbolehkan institusi investor besar dan juga perusahaan-perusahaan transnasional besar untuk memperoleh kendali yang lebih besar terhadap future profit-flows di regional yang menjamin pasar tenaga kerja bebas sehingga kapital dapat lebih baik mengeksploitasi buruh (Gill, 2008:151). Di samping itu, IMF dan World Bank juga ikut terlibat untuk memberikan bantuan kepada negara-negara dalam krisis tersebut yang pada akhirnya menyebabkan perkembangan ekonomi liberal yang berkembang pesat di Jepang dan Asia Timur. Hingga pada tahun 1994 yang menyebabkan devaluasi mata uang Cina dan juga mata uang Jepang yang mengalami depresiasi pada tahun 1995 (Gill, 2008: 155). Kelompok sebelas mengatakan bahwa, meskipun globalisasi mengalami interupsi yang dapat dilihat dari sisi perekonomian yang menyebabkan terjadin ya krisis, namun di era sekarang ini globalisasi juga telah memberikan dampak positif ke dalam aspek kehidupan manusia seperti dalam hal  kecanggihan teknologi.
Sedangkan kelompok dua belas mengatakan bahwa George Soros (2002) dengan jelas menjelaskan mengenai krisis yang melanda finansial global, salah satu contohnya adalah krisis yang melanda benua Asia, dalam artikelnya yang berjudul The Global Financial Crisis. Kelompok dua belas juga menjelaskan bahwa krisis finansial tersebut disebabkan oleh ketidaksejajaran nilai mata uang yang dalam hal ini  negara-negara Asia Tenggara mempertahankan susunan informalnya yang mengikat nilai tukar mereka terhadap dollar Amerika. Di samping itu, stabilitas taraf dollar yang nyata, mendorong bank serta perusahaan lokal untuk meminjam dollar dan mengkonversikan dollar terhadap mata uang lokal tanpa ada batasan-batasan tertentu (Soros, 2002). 1997, menjadi puncak krisis ketika terjadi ketidaksesuaian antara perdagangan dan perhitungan kapital serta karena pemerintahan Thailand yang menaikan nilai tukar mata uangnya. Dan tak lama kemudian, krisis inipun menyebara dengan cepat ke negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia, Korea Utara, dan negara-negara lainnya. Krisis di Thailand ini kemudian dikenal sebagai Asian Crisis, karena krisis ini menimbulkan efek domino kepada negara-negara sekitar Thailand termasuk Indonesia. Kelompok dua belas juga mengatakan bahwa ada tiga alasan utama masa depan dari ledakan krisis global yang tidak bisa diprediksi. Tiga alasan tersebut adalah krisis Rusia telah mengungkapkan kelemahan yang sebelumnya diabaikan dalam system perbankan internasional, adanya enderitaan yang dirasakan oleh negara periphery yang semakin menjadi dan akhirnya negara periphery memutuskan untuk keluar dari sistm kapitalis global atau bahkan jatuh dengan sendirinya, serta bukti dari ketidak mampuan otoritas moneter internasional seperti IMF untuk menjaga keutuhannya. 
Dari sini, pertanyaan – pertanyaan pun kemudian muncul. Salah satu yang patut dipertanyakan adalah perihal krisis itu sendiri. Apakah kemudian krisis yang terjadi adalah krisis di dalam proses globalisasi itu sendiri, ataukah adanya krisis dalam skala global yang disebabkan oleh globalisasi itu sendiri. Ini menanggapi dari tulisan George Soros (2002), yang melihat bahwa terjadi krisis Globalisasi pada saat Great Depression di Amerika Serikat pada 1929. Jika memang itu adalah sebuah krisis, berarti yang terjadi adalah krisis dalam skala global yang disebarkan oleh globalisasi, karena krisis ini dimulai dari satu titik dan menyebar ke seluruh dunia dan berimbas secara global. Hal lain yang patut ditambahkan adalah krisis yang sebenarnya dijabarkan di dalam globalisasi ini, apakah benar – benar krisis di dalam proses globalisasi ataukah hanya sebatas krisis ekonomi dalam skala global. Pertanyaan – pertanyaan semacam ini muncul mengingat George Soros, John Ralston Saul dan Stephen Gill hanya membatasi definisi globalisasi di dalam aspek ekonomi seperti perkembangan pasar finansial global, pertumbuhan perusahaan transnasional, dan peningkatan dominasi ekonomi global serta liberalisme. Ini kemudian membatasi analisa krisis globalisasi itu sendiri hanya di dalam aspek ekonomi, dan tidak mencakup aspek lainnya. Globalisasi sendiri tidak bias hanya dibatasi di dalam aspek – aspek tertentu karena proses globalisasi ini adalah sebuah proses menyelutuh di dalam seluruh aspek kehidupan, dan jika dibatasi dalam satu aspek saja maka akan dapat mengubah makna dari proses itu sendiri. Kelompok panelis menilai bahwa mungkin memang krisis globalisasi itu ada, namun dengan membatasi krisis itu di dalam aspek ekonomi, maka bisa saja yang sebenarnya terjadi hanyalah sebuah krisis ekonomi yang bersifat global yang menyebar dan berimbas ke seluruh dunia karena adanya proses globalisasi. 


Implikasi Perkembangan Teknologi Komunikasi Di Dunia Periklanan


Implikasi Perkembangan Teknologi Komunikasi Dalam Bidang Periklanan
Iklan adalah fenomena kontemporer abad 20, namun cikal bakal periklanan sesungguhnya sudah ada sejak berabad-abad lalu. Periklanan dalam arti sederhana diawali ketika orang mulai hidup pada kelompok-kelompok kecil dan mencoba mempengaruhi orang lain untuk membeli barang komoditas sehari-hari. Selanjutnya periklanan semakin meluas berkat pengembangan teknologi mesin cetak di Eropa pada tahun 1455 dan gelombang Revolusi Industri pada abad 18 yang mempercepat akses bisnis dan memperluas pasar industri.

Dalam masyarakat modern, iklan diartikan sebagai salah satu bentuk informasi terbaru kepada konsumen mengenai berbagai komoditas dan dorongan-dorongan kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi . Dunia periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi dengan teknologi Sepanjang abad 20, periklanan muncul pada lima media utama yaitu; suratkabar, majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang menyebutnya reklame).

Menurut Bondan Winarno dalam buku ”Rumah Iklan”, sejarah periklanan di Indonesia lahir seiring sejarah kelahiran suratkabar. Koran pertama milik Belanda Bataviaasche Nouvelles, saat terbit sebagian besar isinya adalah iklan tentang perdagangan, pelelangan, dan pengumuman resmi pemerintah Hindia Belanda. Iklan suratkabar waktu itu umumnya menampilkan produk-produk yang dikonsumsi masyarakat kelas atas. Sebuah toko P&D (provisien en drunken = kebutuhan makan dan minum) misalnya, mengumumkan lewat suratkabar tentang kedatangan kapal dari Negeri Belanda yang membawa mentega dan keju stok baru. Cerutu dan bir juga merupakan komoditas impor pada masa itu, dan sering diiklankan di suratkabar.

Setelah merdeka, dasawarsa tahun 1970-an merupakan kebangkitan periklanan modern Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri bermodal asing ini membuka peluang bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian juga media-media untuk beriklan semakin marak.

Ketika sistem percetakan ditemukan oleh Guttenberg pada tahun 1450 dan muncul sejumlah surat kabar mingguan, iklan semakin sering digunakan untuk kepentingan komersial. Pada masa ini juga lahir majalah, poster, pamflet, dan sebagainya, maka iklan kemudian berkembang sangat pesat. Namun perkembangan periklanan pada masa-masa sesudah itu menunjukkan sejarah yang amat sulit, terutama merencanakan perkembangan proses perhatian yang spesifik dan informasi ke dalam sistem pelembagaan informasi komersial dan persuasi, dikaitkan dengan perubahan masyarakat dan ekonomi. Dengan pertumbuhan yang begitu pesat dari surat kabar di tahun 1690-an, volume periklanan juga terus meningkat pesat. Walaupun sifatnya terbatas, namun para produsen barang dan jasa telah membiayai periklanan, karena mereka tahu bagaimana cara mendapatkan keuntungan darinya. Sehingga dari buku dan alat tulis, kosmetik dan barang-barang lainnya, mulai menggunakan jasa periklanan, dengan begitu periklanan makin lama makin berkembang.
Perkembangan Tekhnologi telah menyediakan fasilitas baru dalam bidang-bidang yang menyangkut komunkasi, dan salah satunya adalah Periklanan. Iklan berdampak pada keinginan individu dan kelompok bertindak sesuai dengan pembuat iklan itu sendiri. Seperti contohnya adalah membeli barang yang diiklankan.

        Dalam usahanya mempengaruhi public, tentunya iklan memerlukan media untuk menampilkan tayangannya tersebut. Ruang public atau sarana umum kerap sering digunakan dalam periklanan, seperti contohnya memasang baliho, menempelkan poster, banner, spanduk, hingga menggunakan tiang-tiang besar di pinggir jalan agar dapat menarik perhatian orang.

        Penggunaaan ruang public ini merupakan salah satu contoh yang efektif karena setiap hari, orang-orang sering lalu lalang melewati ruang public yang dimana didalamnya terdapat iklan. Semakin berkembang dan berkembang, munculah teknologi komunikasi yang memberikan kemudahan baru, seperti televisi dan radio.

            Pemasangan iklan, kini tidak terbatas jarak sebatas orang-orang melewati baliho di pinggir jalan atau orang-orang yang duduk mendengarkan radio ataupun orang-orang yang duduk di depan layar televisi. Iklan pun kini telah merambah pada internet dan telepon genggam.

            Dalam masyarakat modern, iklan diartikan sebagai salah satu bentuk informasi terbaru kepada konsumen mengenai berbagai komoditas dan dorongan-dorongan kebutuhan tertentu yang bertujuan untuk menjaga tingkat produksi . Dunia periklanan mengalami perkembangan pesat setelah besinergi dengan teknologi Sepanjang abad 20, periklanan muncul pada lima media utama yaitu; suratkabar, majalah, radio, televisi, dan media outdoor (billboard-sebagian orang menyebutnya reklame).
            Setelah merdeka, dasawarsa tahun 1970-an merupakan kebangkitan periklanan modern Indonesia setelah sekian lama ditelan oleh gejolak politik yang melumpuhkan berbagai sektor ekonomi. Pada masa itu perusahaan-perusahaan multinasional masuk Indonesia memanfaatkan kebijakan baru di bidang Penanaman Modal Asing. Maraknya produk-produk yang diluncurkan ke pasar oleh industri bermodal asing ini membuka peluang bagi dunia periklanan untuk beroperasi. Demikian juga media-media untuk beriklan semakin marak.
Berbicara mengenai teknologi, komunikasi dan prosesnya merupakan salah satu dari beragam aspek yang terkena dampak langsung dari perkembangan teknologi itu sendiri. Perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi dan informasi telah menyediakan playground baru bagi bidang-bidang pekerjaan yang menyangkut komunikasi, dan salah satunya adalah Periklanan.



“Advertising certainly aims to change belief. The advertiser wants to alter your cognitive landscape such that your previous indifference, aversion, or total ignorance vis-à-vis Brand X is replaced by a more favourable attitude towards it.” (Kathleen Taylor, 2004).



Tujuan utama dari Iklan adalah merubah kepercayaan. Iklan sendiri memiliki definisi sebagai berikut: “The techniques and practices used to bring products, services, opinions, or causes to public notice for the purpose of persuading the public to respond in a certain way toward what is advertised.” (Encyclopedia Britannica Logo, 2013). Kembali pada poin awal bahwa tujuan dari iklan adalah merubah opini atau kepercayaan. Hal ini kemudian berdampak pada keinginan individu dan kelompok untuk bertindak sesuai dengan pembuat iklan itu sendiri, contohnya adalah membeli barang yang diiklankan, atau setidaknya mengetahui barang yang diiklankan; kemudian ada juga iklan layanan masyarakat yang berguna untuk menghimbau masyarakat agar bertindak sesuai dengan himbauan.



Iklan, dalam berusaha untuk merubah opini publik, memerlukan ruang atau media untuk menampilkan propaganda. Dimulai dari cikal-bakal terjadinya perilaku yang dapat dianggap sebagai aktivitas mengiklankan, adalah dengan mengecat dinding untuk mengumumkan perkelahian gladiator yang dilakukan oleh orang-orang Roma. Sedang orang-orang Ponosea melukis gambar untuk mempromosikan perangkat keras mereka di sepanjang jalur parade. Tidak berubah banyak hingga sekarang, dulu aktivitas ini bertujuan untuk “mempublikasikan” berbagai peristiwa (event) dan tawaran (offers). Satu hal yang sesuai dengan poin di awal, bahwa iklan ini membutuhkan media atau ruang yang dapat digunakan untuk menyampaikan propaganda.


Rabu, 08 Oktober 2014

Perkembangan Teknologi & Komunikasi Dalam Industri Media (Tugas ke-2)

Perkembangan Teknologi & Komunikasi Dalam Industri Media (Tugas ke-2)


1. Tokoh dunia yang menguasai Media?

Di bawah ini adalah tauke-tauke Yahudi yang menguasai media Amerika pada hari ini,

1. Mortimer Zuckerman, pemilik NY Daily News, US News & World Report dan ketua
    Konferensi Presiden Organisasi Utama Yahudi Amerika, salah satu kelompok lobi
    pro-Israel terbesar.
2. LESLIE MOONVES, presiden televisi CBS, besar-keponakan dari David Ben-Gurion, dan
    co-presiden dengan Norman Ornstein dari Komite Penasihat Kepentingan Umum 
    Kewajiban Produsen Digital TV, ditunjuk oleh Clinton.
3. JONATHAN MILLER, ketua dan CEO divisi AOL-Time-Warner
4. NEIL Shapiro, presiden NBC News
5. JEFF GASPIN, Wakil Presiden Eksekutif, Pemrograman, NBC
6. David Westin, presiden ABC News
7. Sumner Redstone, CEO dari Viacom, “memiliki media terbesar dunia” (Ekonom, 11/23/2),
    memiliki kabel Viacom, CBS dan MTV di seluruh dunia, persewaan video Blockbuster
    dan Black Entertainment TV.
8. Michael Eisner, pemilik utama dari Walt Disney, Capitol Cities, ABC.
9. Rupert Murdoch, Pemilik Fox TV, New York Post, London Times, News of the World
10. MEL KARMAZIN, presiden dari CBS
11. DON Hewitt, Direktur Eksekutif 60 Minutes, CBS
12. JEFF FAGER, Direktur Eksekutif, 60 Minutes II. CBS
13. DAVID POLTRACK, Wakil Presiden Eksekutif, Penelitian dan Perencanaan, CBS
14. SANDY KRUSHOW, Ketua Fox Entertaiment
15. LLOYD Braun, Ketua ABC Entertaiment
16. Barry Meyer, Ketua Warner Bros
17. Sherry Lansing. Presiden Komunikasi Paramount dan Ketua Paramount Pictures Grup
      Motion.
18. HARVEY Weinstein, CEO. Miramax Films.
19. BRAD Siegel., Presiden, Turner Entertainment.
20. PETER Chernin, orang kedua Rupert Murdoch di News. Corp
21. Marty Peretz, pemilik dan penerbit New Republic, yang terang-terangan
      mengidentifikasi dirinya sebagai pro-Israel. Al Gore memberinya kredit sebagai
     “mentornya.”
22. ARTHUR O. Sulzberger, JR., Penerbit NY Times, Boston Globe dan publikasi lainnya.
23. William Safire, kolumnis untuk NYT.
24. TOM Friedman, kolumnis untuk NYT.
25. CHARLES Krauthammer, kolumnis untuk Washington Post.
26. RICHARD COHEN, kolumnis untuk Washington Post
27. JEFF Jacoby, kolumnis untuk Boston Globe
28. NORMAN Ornstein, American Enterprise Inst., Kolumnis rutin untuk USA Today, penulis
      berita analis untuk CBS, dan co-presiden dengan Leslie Moonves, Komite Penase\ihat
      Kepentingan Umum Kewajiban Produsen Digital TV, ditunjuk langsung oleh Clinton.
29. Arie Fleischer, sekretaris pers Dubya.
30. STEPHEN EMERSON, pilihan pertama setiap outlet media sebagai pakar terorisme
      dalam negeri.
31. DAVID Schneiderman, pemilik dan Village Voice New jaringan Times “mingguan
      alternatif.”
32. DENNIS Leibowitz, kepala UU Mitra II,
33. KENNETH Pollack, untuk analis CIA, direktur Pusat Saban untuk Kebijakan Timur
      Tengah, menulis op-eds di NY Times, New Yorker
34. Barry Diller, ketua Amerika Serikat Interaktif, bekas pemilik Universal Entertaiment
35. KENNETH Roth, Direktur Eksekutif Human Rights Watch
36. RICHARD LEIBNER, menjalankan N.S. Bienstock
37. Terry Semel, CEO, Yahoo, Warner Bros
38. MARK GOLIN, VP dan Direktur Kreatif, AOL
39. WARREN LIEBERFORD, Pres., Warner Bros Home Video Div. AOL-timewarner
40. Jeffrey Zucker, Presiden NBC Hiburan
41. JACK MYERS, NBC, chief.NYT 5.14.2
42. SANDY GRUSHOW, ketua Fox Entertainment
43. Gail Berman, Presiden Fox Entertainment
44. STEPHEN Spielberg, co-pemilik Dreamworks
45. Jeffrey Katzenberg, co-pemilik Dreamworks
46. David Geffen, co-pemilik Dreamworks
47. Llyod Braun, ketua ABC Entertainment
48. JORDAN Levin, presiden Warner Bros Entertainment
49. MAX MUTCHNICK, co-produser eksekutif NBC’s “Good Morning Miami”
50. DAVID KOHAN, co-produser eksekutif NBC’s “Good Morning Miami”
51. Howard Stringer, kepala Sony Corp of America
52. AMY PASCAL, ketua Columbia Pictures
53. Joel Klein, kursi dan CEO Amerika Bertelsmann’s
54. ROBERT SILLERMAN, pendiri Clear Channel Communications
55. Brian GRADEN, presiden MTV
56. IVAN SEIDENBERG, CEO Verizon Communications
57. WOLF Blitzer, pembawa acara Edisi Akhir CNN
58. LARRY KING, pembaca acara Larry King Live
59. Ted Koppel, pembawa acara ABC Nightline
60. Andrea Koppel, Reporter CNN
61. PAULA Zahn, Host CNN
62. Mike Wallace, Host dari CBS, 60 Minutes
63. BARBARA WALTERS, Host, ABC 20-20
64. MICHAEL LEDEEN, editor National Review
65. Bruce Nussbaum, editor halaman editorial, Business Week
66. DONALD GRAHAM, Ketua dan CEO Newsweek dan Washington Post
67. CATHERINE GRAHAM Meyer, bekas pemilik Washington Post
68. HOWARD FINEMAN, Kolumnis Kepala Politik, Newsweek
69. William Kristol, Editor, Standar Mingguan, Exec. Direktur Proyek untuk Abad Baru
      Amerika (PNAC)
70. RON Rosenthal, Managing Editor, San Francisco Chronicle
71. Phil Bronstein, Editor Eksekutif, San Francisco Chronicle,
72. RON Owens, Talk Show Host, KGO (Kota ABC-Capitol, San Francisco)
73. JOHN Rothman, Talk Show Host, KGO (Kota ABC-Capitol Francisco, San)
74. Michael Savage, Talk Show Host, KFSO (ABC-Capitol Kota, San Francisco) di 100
      pasar Sindikasi
75. MICHAEL Medved, Talk Show Host, pada 124 stasiun AM
76. Dennis Prager, Talk Show Host, nasional sindikasi dari LA. Apakah bendera Israel di
      halaman rumahnya.
77. Wattenberg BEN, Moderator, PBS Think Tank.
78. ANDREW KURANGNYA, presiden NBC
79. DANIEL Menaker, Direktur Eksekutif, Harper Collins
80. DAVID REMNICK, Editor, The New Yorker
81. Nicholas Lehmann, penulis, New York
82. Henrick Hertzberg, pembicara dari editor Town, The New Yorker
83. SAMUEL Newhouse JR, dan DONALD Newhouse Publikasi Newhouse sendiri,
      termasuk 26 surat kabar di 22 kota; kelompok majalah Conde Nast, termasuk The New
      Yorker, Parade, surat kabar Minggu suplemen; American City Business Journal, koran
      bisnis yang diterbitkan di lebih dari 30 kota besar di Amerika, dan kepentingan dalam
      pemrograman dan sistem kabel televisi kabel yang melayani 1 juta rumah.
84. DONALD Newhouse, ketua dewan direksi, Associated Press.
85. PETER R KANN, CEO, Wall Street Journal, Barron’s
86. RALPH J. & Brian Roberts, Pemilik, TV kabel Comcast-ATT.
87. Kirshbaum Lawrence, CEO, AOL-Time Warner Grup Buku. 

2.    Berapa Jumlah Media Massa yang dikuasai Rupert Murdoch?
  
Rupert Murdoch membangun kerajaan bisnis medianya dengan nama News Corporations, salah satu perusahaan media terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Perusahaan yang dimiliki NewsFOX dan Harper Collins di Amerika Serikat dan BSkyB di Britania Raya.
Berikut sejarah perkembangan bisnis media yang dibangun Rupert Murdoch dengan cara mengakuisisi beberapa perusahaan di seluruh dunia yang digabungkan ke dalam induk perusahan News Corporation miliknya.
1)    News Corporation adalah perusahaan publik yang dipegang oleh Rupert Murdoch. Didirikan pada tahun 1979 di Australia, perusahaan ini dipindahkan ke Amerika Serikat pada tahun 1980. Perrusahaan ini memiliki ribuan media massa, seperti pesaing globalnya, General Electric.
2)    Fox News Channel adalah saluran berita terkini yang dikemas cermat oleh Fox Broadcasting Company. Dirintis oleh Rupert Murdoch, saluran ini didirikan pada tanggal 7 Oktober 1996, dengan bantuan dari CBS, NBC dan ABC.
3)    20th Century Fox, kependekan dari Twentieth Century Fox Film Corporation, adalah salah satu studio film utama, terletak di Century City, California, Amerika Serikat, persis di barat Beverly Hills. Studio ini merupakan anak perusahaan News Corporation, konglomerat media yang dikuasai oleh Rupert Murdoch. Perusahaan ini merupakan hasil dari penggabungan dua perusahaan, Fox Film Corporation didirikan oleh William Fox pada 1914, dan Twentieth Century Pictures, dimulai pada 1933 oleh Darryl F. Zanuck, Joseph Schenck, Raymond Griffith dan William Goetz.
4)    The Times adalah surat kabar harian yang diterbitkan di Inggris Raya sejak tahun 1785, ketika itu masih dikenal dengan nama The Daily Universal Register. Surat kabar ini dan saudaranya The Sunday Times diterbitkan oleh Times Newspapers Limited, yang merupakan bagian dari News International. News International dimiliki secara keseluruhan oleh kelompok News Corporations, yang dipimpin oleh Rupert Murdoch. The Times adalah nama asli dari surat kabar ini, dan meminjamkan namanya pada berbagai surat kabar di beberapa penjuru dunai, seperti The New York Times, The Times of India, dan The Irish Times. Untuk lebih khusus, jika diterbitkan untuk daerah di luar UK sebagai London Times. Surat kabar ini aslinya mempergunakan jenis huruf Times New Roman, yang dikembangkan oleh Stanley Morison dari The Times bekerjasama dengan Monotype Corporation yang sudah terkenal akan percetakannya
Ini adalah beberapa Media Massa yang dikuasai oleh Si Raja Media Ruppert Murdoch :

1. News Limited (Australia)
2. The Sun (inggris)
3. The News World (Inggris)
4. Sky Television (Inggris)
5. San Antonio Express News (Amerika)
6. Supermarket Star (Amerika)
7. New York Post (Amerika)
8. 20th Century Fox (Amerika)
9. Metro Media (Amerika)
10. Star TV (Asia)
11. My Space (Amerika)
12 Blue Sky Studios
13. Fox Entertainment Group
14. Fox Broadcasting Company
15. Andalas Televisi
16. BSkyB
17. Sky News
18. Phoenix Television
19. Fox News Channel
20. Fox Crime
21. 4Kids TV (berhenti siaran pada tahun 2008)
22. New York Post
23. Dow Jones Industrial Average
24. National Geographic Channel
25. The Weekly Standart
26. MySpace Records
27. BabyTV
28. Fox sports  



3. Bagaimana Teknologi komunikasi dalam mendukung kerja korporasi di berbagai negara secara terpisah?

Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi banyak digunakan para usahawan. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi menyebabkan perubahan pada kebiasaan kerja.
Salah satu peranan teknologi informasi bagi perusahaan yang paling nyata adalah semua pekerjaan akan lebih cepat dan akurat. Penerapan teknologi informasi yang efektif akan mengurangi biaya yang tidak diharapkan dan dapat meningkatkan fleksibilitas. Teknologi Informasi dapat diterapkan pada semua jenis usaha dan telah menjadi kebutuhan dasar mulai dari perusahaan kecil sampai perusahaan besar bahkan toko retail sekalipun.
Dalam dunia bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet.  Perdagangan sebenarnya merupakan kegiatan yang dilakukan manusia sejak awal peradabannya. Sejalan dengan perkembangan manusia, cara dan sarana yang digunakan untuk berdagang senantiasa berubah. Bentuk perdagangan terbaru yang kian memudahkan penggunaannya kini adalah e-commerce. Secara umum, e-commerce dapat didefinisikan sebagai segala bentuk transaksi perdagangan atau perniagaan barang dan jasa dengan menggunakan media elektronik.Di dalam e-commerce, para pihak yang melakukan kegiatan perdagangan / perniagaan hanya berhubungan melalui suatu jaringan publik (public network) yang dalam perkembangan terakhir menggunakan media internet.
Dalam dunia perbankan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah diterapkannya transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking.
       IT sebagai enabler dari strategic importance serta menawarkan peluang yang signifikan pada bisnis organisasi, dimana mereka memberi peluang: Meningkatkan nilai tambah pada produk atau layanan membantu dalam competitive positioning menurunkan biaya operasional, meningkatkan efisiensi administratif meningkatkan efektifitas manajerial.
       IT governance merupakan bagian yang sangat penting dan kritis dalam upaya pencapaian corporate governance. IT governance merupakan satu kesatuan dengan corporate governance dengan memberi keyakinan adanya peningkatan efektivitas dan efisiensi dalam proses organisasi yang terkait.
       Semua bisnis tentunya juga membutuhkan semua informasi yang sangat aktual, cepat dan dapat dipercaya, yang mana bisa semua permasalahan tersebut hanya bisa diselesaikan melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT).

4. Berapa banyak korporasi media yang ada di Indonesia?

    Banyak masyarakat Indonesia yang bergantung dengan media massa untuk hanya mencari sebuah hiburan ataupun untuk memenuhi kebutuhanya. Dengan semakin banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakan jasa media massa. Untuk sebagian pebisnis, dalam pandangan mereka itu merupakan salah satu peluang untuk meraup keuntungan yang menjanjikan. Maka tak heran dengan selalu bertambahnya media massa di Indonesia, dalam percetakan, pertelevisian ataupun radio. Dalam bidang pertelevisian, selain TVRI sebagai stasiun pertama yang berdiri di Indonesia yaitu pada tanggal 24 Agustus 196. terdapat 11 (sebelas) stasiun televisi lainya,
Sebelas televisi ini ternyata dikuasai beberapa grup pemilik seperti MNC yang menguasai MNC (tadinya TPI), Metro TV, Global TV dan RCTI. Transcorp/Grup Para menguasai Trans TV dan Trans 7, kemudian Bakrie Group menguasai ANTV dan TV One , SCTV dan IVM (Indosiar Visual Mandiri) dikuasai kelompok yang sama, disamping TVRI serta Space Toon yang punya ijin siaran nasional, namun saham kepemilikan space toon kini telah di beli oleh perusahaan swasta dan berganti nama menjadi NET. Di samping itu kini telah beroperasi 7 televisi berlangganan satelit, 6 televisi berlangganan terrestrial, dan 17 televisi berlangganan kabel. Seperti tidak mau kalah dengan pertelevisian, radiopun mengalami kemajuan walaupun tidak sepesat televisi. Hingga akhir tahun 2002, terdapat 1188 Stasiun Siaran Radio di Indonesia. Jumlah itu terdiri atas 56 stasiun RRI dan 1132 buah Stasiun Radio Swasta. Perkembangan industri dan bisnis penyiaran juga telah mendorong tumbuh pesatnya bisnis rumah produksi (Production House/PH). Sebelum krisis ekonomi, tercatat ada 298 buah perusahaan PH yang beroperasi di mana sekitar 80% di antaranya berada di Jakarta.
Pada saat krisis, khususnya antara tahun 1997-1999, jumlah PH yang beroperasi menurun drastis sampai sekitar 60%. Pada tahun 2003, bisnis PH secara perlahan kembali bangkit yang antara lain didorong oleh peningkatan jumlah televisi swasta. Kebutuhan TV swasta akan berbagai acara siaran, mulai acara hiburan sampai acara informasi dan pendidikan, banyak diproduksi oleh PH local. dalam bisnis media penerbitan, khususnya surat kabar dan majalah, juga mengalami peningkatan khususnya dalam hal kuantitas. Pada tahun 2000, menurut laporan MASINDO, terdapat 358 media penerbitan. Jumlah tersebut terdiri atas 104 surat kabar, 115 tabloid, dan 139 majalah. Hal menarik dalam penerbitan media massa cetak ini adalah semakin beragamnya pelayanan isi yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan segmen khalayak pembacanya.
Beberapa contoh korporasi media yang ada di Indonesia diantaranya : 
      
     - Media Nusantara Citra (MNC) Group milik Hary Tanoesoedibjo 
     - Mahaka Group milik Erick Tohir 
      - Kelompok Kompas Gramedia milik Jakob Oetama
     - Jawa Pos Group milik Dahlan Iskan
     - Media Bali Post Group milik Satria Narada
     - Elang Mahkota Teknologi (EMTEK) Group milik Eddy Kusnadi Sariaatmadja
     - Lippo Group milik James T Riady
     - Bakrie & Brothers milik Anindya Bakrie
     - Femina Group milik Pia Alisyahbana dan Mirta Kartohadiprodjo 
     - Media Group milik Surya Paloh 
     - Mugi Reka Aditama (MRA) Group milik Dian Muljani Soedarjo
     - Trans Corporation milik Chairul Tanjung 
     - Tempo Group milik Goenawan Muhammad 
     - Bisnis Indonesia Group milik R Sukamdani S Gitosardjono

5 .Unsur Persaingan bisnis yang di lakukan Media Massa

Di era globalisasi ini, kebutuhan akan informasi yang cepat menjadi sangat penting bagi masyarakat. Media massa merupakan bentuk komunikasi massa yang mampu menyediakan kebutuhan akan informasi yang cepat mengenai apa yang terjadi. Media sebagai bagian dari komunikasi massa memegang posisi penting dalam masyarakat dimana menurut Lasswell dan Wright, komunikasi massa memiliki fungsi sosial sebagai surveillance, korelasi dan interpretasi, transmisi budaya dan sosialisasi, serta sebagai media hiburan.
Peranannya yang penting inilah yang membuat industri media massa berkembang sangat pesat dan membuat media massa tidak hanya sebagai sebuah institusi yang idealis, seperti misalnya sebagai alat sosial, politik, dan budaya, tetapi juga telah merubahnya menjadi suatu institusi yang sangat mementingkan keuntungan ekonomi. Sebagai institusi ekonomi, media massa hadir menjadi suatu industri yang menjanjikan keuntungan yang besar bagi setiap pengusaha.
Oleh karena itu, jelas adanya oligopoli media, yang mengarahkan terciptanya monopoli media massa yang mengancam hak publik dalam mengakses informasi, sebab perusahaan media massa dikendalikan para pemilik modal dan digunakan untuk mengeruk keuntungan. Konsentrasi media yang terjadi dikhawatirkan membawa sejumlah dampak negatif, tidak hanya pada perkembangan kelangsungan sistem media di Indonesia, melainkan juga dampak pada isi atau konten yang disampaikan kepada masyarakat. Adanya konsentrasi media massa juga dapat mengakibatkan homogenitas pemberitaan dan informasi akibat dari diversifikasi media, yaitu proses penganekaragaman usaha ekonomi sosial yang dilakukan oleh suatu industri atau pelaku produksi media .
Sudut pandang yang dapat digunakan untuk melihat bagaimana peran pemilik media dari segi ekonomi politik terhadap media massa dapat dengan menggunakan pandangan dari teori ekonomi politik. Teori Ekonomi-politik merupakan sebuah teori yang berangkat dari pendekatan kritis yang muncul sebagai respon terhadap akselerasi kapitalisme.

Faktor kepemilikan media tersebut menyebabkan isu ekonomi politik media memiliki konsekuensi:

a.   Homogenisasi

Homogenisasi dapat diartikan sebagai : “Financial pressures ands other forces lead all media products to becom similar, standard and uniform” atau penyeragaman bentuk tayangan atau program.

b.  Agenda setting

Merupakan upaya media untuk membuat pemberitaan tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa melainkan ada strategi dan kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan memiliki nilai lebih yang diharapkan oleh media.

c.   Hegemoni Budaya

Merupakan pandangan bahwa telah terjadi dominasi oleh salah satu kelas di masyarakat atas kelas-kelas lainnya. Hegemoni budaya mengidentifikasi dan menjelaskan dominasi dan upaya mempertahankan kekuasaan, metode yang dipakai mereka yang berkuasa atas kelas-kelas yang subordinat untuk menerima dan mengadopsi the ruling- class values. Contoh: konsumerisme, budaya Jawa, dan Islam
Karena kepentingan ekonomi media massa yang sudah berkembang, maka pers akan berubah tidak lagi menjadi pers yang idealis karena ada cempur tangan pemilik media yang akan menjadi gatekeeper utama menentukan informasi dan opini “pilihan” untuk diterima oleh masyarakat luas. Hal ini akan membuat informasi yang sampai ke masyarakat telah diatur sedemikian rupa tanpa disadari dan menjadi tidak seimbang. Selain itu, perkembangan industri yang berkiblat pada perkembangan di dunia barat dan masuknya modal asing dalam kepemilikian konsolidasi media akan mampu membawa masuk budaya barat ke delam masyarakat melalui isi yang ditampilkan oleh media sehingga dapat berakibat pada penjajahan budaya di masyarakat. Kepemilikan silang media yang bisa memicu adanya monopoli media massa yang pada akhirnya akan mengakibatkan soal hegemoni dan dominasi perusahaan media besar terhadap opini serta kebenaran yang dibentuk. Perluasan kepemilikan akan berpengaruh terhadap budaya yang berkembang di masyarakat karena industri ekonomi media yang besar berasal dari dunia barat.
       Semua itu tidak terlepas dari adanya agenda setting dan framing yang dilakukan media massa yang disesuaikan dengan kepentingan pemiliknya. Hal tersebut bertentangan dengan fungsi utama jurnalisme media, yakni menyampaikan kebenaran publik, bukan kebenaran subyektif pemilik media atau pasar yang sifatnya sensasional. Kenyataan menunjukkan, keterlibatan media dalam membentuk suatu opini publik adalah sebuah kekuatan tersendiri yang dimilikinya dan itu sangat berpengaruh dalam tatanan kehidupan di masyarakat.
Konglomerasi media dimana pemilik media besar yang memiliki beragam jenis media massa dapat secara terus menerus menyampaikan informasi walaupun informasi tersebut sarat dengan kepentingan ekonomi dan politik tertentu

Selasa, 23 September 2014

Perkembangan Teknologi (Nurrohman Sidiq 41812077)

Tugas Perkembangan Teknologi Komunikasi

Teknologi Dibidang Ekonomi , Politik , Budaya & Sosial

Teknologi adalah suatu cabang antropologi budaya yang berhubungan dengan studi terhadap kebudayaan materi. Hal ini lebih dimaksudkan sebagai proses-proses manusia dalam menangani dan mengendalikan lingkungan fisiknya. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. (Kementerian Negara Riset dan Teknologi, 2006: 6).
Jika dilihat pada saat sekarang ini perkembangan teknologi informasi terutama di Indonesia semakin berkembang. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.
Dalam perekonomian suatu negara, teknologi informasi mulai dirasa mempunyai peran yang penting dalam perekonomian suatu negara karena dengan berkembangnya teknologi informasi, perekonomian suatu negara mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Banyak hal yang dirasa berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara yang berkembang sebelumnya. Saat sekarang ini jarak dan waktu bukanlah sebagai masalah yang berarti untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, berbagai aplikasi tercipta untuk memfasilitasinya.
Perekonomian suatu negara dapat dilihat dari perkembangan teknologi informasi dan komunikai di negara tersebut. Semakin tinggi perkembangan teknologi informasi maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Namun perkembangan teknologi informasi ini juga memiliki sisi negatif, dimana banyak penyalahgunaan teknologi dalam melakukan tindak kriminal.
Kemajuan teknologi adalah sesuatu hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuanm ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun demikian, walaupun pada awalnya diciptakan untuk menghasilkan manfaat positif, di sisi lain juga juga memungkinkan digunakan untuk hal negatif dari kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia.
1. Dampak Positif
Teknologi yang berkembang pesat, baik teknologi informasi, komunikasi, maupun transportasi. Sehingga orang dapat berhubungan melewati batas-batas negara. Lebih lanjut dampak positif teknologi informasi dan komunikasi di bidang ekonomi adalah :
a. Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi
b. Terjadinya industrialisasi
c. Produktifitas dunia industri semakin meningkat.
Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvestasi yang berlangsung secara besar-besaran yang akan semakin meningkatkan produktivitas dunia ekonomi.
Di masa depan, dampak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda-tanda telah menunjukkan bahwa akan segera muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan pabrik sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi, dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko.
d. Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.
Kecenderungan perkembangan teknologi dan ekonomi, akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja yang mampu mentransformasikan pengetahuan dan skill sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang berubah tersebut.
e. Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komoditi.
2. Dampak Negatif
Di bidang teknologi terjadi penyalahgunaan fungsi teknologi untuk hal-hal yang melanggar norma, seperti video porno yang direkam via handphone, atau kasus penipuan via internet.
Dampak Positif Teknologi Informasi dalam Politik 
 Kegiatan politik yang menggunakan teknologi informasi memiliki keuntungan yang sangat besar diantaranya :
1.       Dalam Demokratisasi
Salah satu tujuan utama dalam penggunaan politik dibantu dengan teknologi informasi adalah adanya peranan besar masyarakat dalam pengembangan pemerintah. Dengan e-government maka hal ini bisa tercapai. Bayangkan saja jika ada anggota DPR yang dapat berinteraksi dengan rakyat yang telah memilihnya, kegiatan tanya jawab, melakukan voting, saran dan kritik akan dapat tersalurkan dengan cepat, langsung, dan nyaman. Ini membuat masyarakat lebih tanggap dan mendapatkan kemungkinan suaranya didengar secara mudah. Masyarakat yang dapat bercakap-cakap langsung dengan anggota DPR itu juga dapat melakukan review kenapa mereka memilih perwakilan mereka tersebut dan dapat menentukan pilihan untuk wakil mereka di masa depan.
2.       Dampak ramah lingkungan
Dengan menggunakan teknologi informasi berarti informasi yang disampaikan kebanyakan menggunakan media digital. Surat menyurat yang mungkin pada awalnya dapat bertumpuk-tumpuk kini cukup dengan menggunakan e-mail sudah dapat dilaksanakan. Dengan demikian penggunaan kertas dapat dikurangi yang berarti penebangan pohon dapat berkurang.
3.       Cepat, efisien, nyaman
Kegiatan komunikasi untuk keperluan politik dengan menggunakan teknologi informasi menyebabkan sampainya berita lebih cepat, dilakukan secara efisien, dan nyaman. Misalnya jika ada masyarakat yang ingin mengajukan pendapatnya ke wakil rakyat maka cukup dengan menggunakan e-mail surat dapat sampai dengan segera. 
4. Politik Internasional
Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh berkembangnya regionalisme. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi telah menghasilkan kesadaran regionalisme. Ditambah dengan kemajuan di bidang teknologi transportasi telah menyebabkan meningkatnya kesadaran tersebut. Kesadaran itu akan terwujud dalam bidang kerjasama ekonomi, sehingga regionalisme akan melahirkan kekuatan ekonomi baru.    
 
Dampak Negatif Teknologi Informasi dalam Politik
 
Walaupun penggunaan teknologi informasi dalam politik memberikan benefit yang sangat banyak, namun tetap ada  dampak negatifnya, dalam segi:
1.       Biaya
Walaupun politik yang menggunakan informasi dan teknologi dapat melakukan pengeluaran yang lebih sedikit daripada konvensional, namun sebelumnya untuk membuat infrastruktur dan teknisinya akan memiliki biaya yang sangat mahal.
2.       Jangkauan akses
Harus diakui tidak semua orang melek terhadap teknologi. Bagi warga yang berada jauh di pedalaman akan susah untuk mengakses website, blog, atau video streaming tentang politik di Indonesia.
3.       Transparansi
Pada beberapa negara maju, banyak yang meragukan berita-berita negara yang diterbitkan oleh negara sendiri. Alasannya karena yang menulis berita itu adalah negara dan penerbitnya adalah negara. Kecurigaan akan modifikasi berita dapat terjadi
4.       Privasi
Sebuah badan politik seperti negara memerlukan tanggapan dari warganya. Jika negara terus meminta informasi maka privasi dari seseorang semakin sulit untuk dijaga. Ini akhirnya menjadi dilema, di sisi yang satu data dari masyarakat dihimpun untuk mengembangkan kegiatan negara namun di sisi yang lain negara pun harus menjunjung tinggi hak privasi warganya.
 
Dalam membuat kegiatan politik menggunakan teknologi informasi menjadi nyaman maka dampak negatif yang ada harus sebisa mungkin diminimalisir. Adapun solusi yang dapat dirujuk dan dikembangkan adalah sebagai berikut:
1.    Masyarakat diajarkan fungsi dan manfaat teknologi informasi. Perkembangannya yang semakin pesat akan harus selalu dikejar masyarakat agar dalam kegiatan politik dan teknologi informasi masyarakat dapat mengikuti. Tanpa adanya pemahaman akan teknologi informasi maka kegiatan e-government sendiri tidak akan berjalan.
2.    Kegiatan-kegiatan negara sedini mungkin menunjukkan transparansi kepada masyarakat. Masyarakat yang dapat melihat kegiatan negara maka dapat menjadi semakin kritis dan memberikan solusi tepat guna. Kegiatan yang ditutup-tutupi oleh negara hanya akan memberikan rasa tidak percaya dari masyarakat.
3.    Masyarakat diberikan pemahaman menyeluruh tentang etika dalam teknologi informasi agar dapat membentengi diri dalam penyalahgunaan privasi, baik itu dari orang lain maupun negara. Dengan demikian data-data yang tersalurkan adalah data yang memang dibutuhkan untuk pengembangan negara dan bukan data pribadi yang tidak berhak untuk disebarkan.
 
Bidang Sosial dan Budaya
Akibat kemajuan Teknologi bisa kita lihat :
1.Perbedaan kepribadian pria dan wanita. Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanitayang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkanperubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol. Data yangtertulis dalam buku Megatrend for Women:From Liberation to Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene & John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanitayang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri , dan berbagai jabatan pentinglainnya.
2.Meningkatnya rasa percaya diri. Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik.Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatubangsa akan semakin kokoh. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi dapat melecehkan bangsa-bangsa Asia.
3.Tekanan, kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkangenerasi yang disiplin , tekun dan pekerja keras
Meskipun demikian Kemajuan Teknologi akan berpengaruh Negatif pada aspek budaya:
1.Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupanekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi “kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani”.
2.Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibatnya bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.
3.Pola interaksi antar manusia yang berubah kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golonganmenengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telpon telahmembuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC) , internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagaiwarung internet (WARNET) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluraninternet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yangmenghabiskan waktunya sendirian dengan komputer.  Melalui    program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisaasyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja.